Kisah penaklukan Mesir di tangan Amru bin al-Ash diabadikan al-Waqidi dalam Tarikhnya. Saat itu, Armanosa, putri Muqauqis, dalam perjalanan hendak menikah dengan Qostantin putra Heraklius, ditemani Maria, wanita “suci”, pemeluk Kristen yang kuat. Mereka bertemu pasukan Amru di Bulbis, kota tua terletak di Propinsi Mesir sebelah Timur
Pikiran dan perasaan Maria sudah berkecamuk, diliputi berbagai kekhawatiran. Tapi, akhirnya berhasil ditenangkan oleh Armanosa. Armanosa sama sekali tidak ada kekhawatiran terhadap pasukan Amru, karena sudah mengenal mereka melalui Maria al-Qibriyah, budak ayahnya, yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad Shalla-Llahu Alaihi wa Sallama
Kata Aramanosa, “Kamu sedang berkhayal, Maria.” Armanosa menuturkan penuturan ayahnya, dari Maria al-Qibtiyyah, “Orang Islam itu adalah akal baru, yang akan diletakkan di dunia untuk memilah, mana yang haq dan batil. Nabi mereka adalah manusia paling bersih melebihi putihnya awan di langit. Mereka semua didorong oleh dorongan agama dan kemuliaannya, buka oleh hawa nafsu dan syahwat mereka
Kalau mereka harus menghunus pedang, mereka akan hunus mengikuti aturan. Kalau mereka sarungkan, mereka sarungkan mengikuti aturan
Kaum perempuannya begitu menjaga kesuciannya
Mereka tidak menyerang suatu bangsa sebagaimana yang dilakukan para raja, tapi itu merupakan karakter syariat yang baru. Melangkah ke seluruh dunia dengan senjata dan akhlaknya. Lahir dan batinnya kuat. Di balik senjata mereka terpancar akhlak yang tinggi nan mulia. Karena itu, senjata mereka sendiri itu mempunyai akhlak.”
Maria mulia tenang dengan penuturan Armanosa. Armanosa melanjutkan, “Maria, kamu jangan terlalu khawatir. Orang Islam itu tidak seperti tentara Romawi yang kejam dan bengis itu.”
“Orang Islam itu paham kenikmatan dunia dengan pandangan untuk menjaga, membutuhkan halal dan haramnya. Mereka paham kenikmatan dunia dengan pandangan merasa cukup dengannya. Bisa memilih mana yang halal dan haram. Mereka manusia yang penuh kasih sayang dan menjaga kesucian hatinya.”
Maria adalah perempuan taat sekaligus menguasai filsafat Yunani, sebagaimana lazimnya hasil didikan sekolah teologi.
Bersambung

