Gadis Kecil Dan Yatim Itu Berhasil Mencetak Ulama Besar
Beliau wafat di usia 20 an tahun. Meski wafat di usia yang masih muda, tetapi beliau telah berhasil mengantarkan adik kecilnya, menjadi seorang ulama yang agung. Seorang Hafidz, Ahli Hadits, yang hebat. Ibn Hajar al-Asqalani.
Iya. Ibn Hajar dan kakak perempuannya sama-sama yatim di saat masih belia. Kakak perempuannya, yang masih belia itu adalah seorang Qari’, penulis dan mempunyai kecerdasan yang menakjubkan. Beliau mendapat Ijazah dari ayahnya, yang mengurusnya dengan pola asuh yang luar biasa.
Ibn Hajar tumbuh sebagai anak yatim. Ibunya wafat, kemudian ayahnya. Beliau kemudian diurus dan diasuh oleh kakak perempuannya. Ibn Hajar berkomentar, “Beliau sangat baik sekali kepadaku. Penyayang dan baik sekali. Semoga Allah membalasnya karena mengurusku. Aku mendapatkan banyak kebaikan darinya, belajar adabnya, meski beliau masih belia.”
28 tahun setelah beliau wafat, Ibn Hajar masih merasakan kesedihan yang mendalam. Kata beliau, “Aku mendapat musibah atas wafatnya beliau, pada Jumadil Akhir 789 H.” Ada puisi kesedihan yang beliau gubah yang tertuang di dalam banyak karyanya.
Aku menangisi kesempunaan itu karena betapa mahal harganya
Masih adakah kemuliaan setelah kenikmatan dan kelembutan ituAku menangisi ketenangan, ilmu dan kesucian jiwanya
Bersanding dengan kemuliaan hidayah dan kondisi yang menggoncang
Subhanallah..

